LELAKI LANGIT

Karya: Naila Salsabila, siswi kelas 8 SMPIT AVICENNA

Tiba-tiba aku terbangun.Ketika jarum jam menunjuk angka 02.34 pagi.

Setengah mengantuk aku bergegas ke kamar kecil.
Enam detik kemudian aku terpaku heran. Sudah ada ibu berdiri di depanku.
Kenapa ibu ada di sini?
Bukankah almarhumah sudah lama meninggalkan kami.
Rasa kantung kemih penuh mendadak hilang ditelan bumi.
Seorang lelaki yang tak kukenal berdiri di samping ibu. Badannya kurus, wajahnya tirus.
“Aa Asep, Ibu nyuhunkeun pitulung. Kalau umroh titip dia ini”, ujar ibu dengan logat sundanya yang
kental sambil menunjuk lelaki di sampingnya.
“Muhun mak. Tapi punteun, eta saha?”
Ibu tidak menjawab.
Lelaki itu kupandangi kemudian.

UJANG
Aku melihat itu di atas saku kemejanya.
Di bawahnya ada sederetan angka.
Jelas sekali semuanya terbaca.
Tiba-tiba aku terbangun dan mengerjapkan mata.
“Aa Asep mimpi lagi ya?” ujar istriku lembut sambil membelai kepalaku.
Jantungku berdegup keras.
“Ini sudah 3 kali mimpi yang sama,” ujarku sambil bergegas pergi ke kamar kecil.
Jarum jam 04.34 pagi.
Adzan Subuh berkumandang.

***
Sopirku pak Sanusi, menghela nafas berat di belakang kemudi.
Jakarta padat merayap malam hari ini.
Duduk di kursi belakang, aku sibuk dengan MacBook Pro menyelesaikan laporan audit tahunan yang
hampir jatuh tempo.
Saat Pak Sanusi meliukkan Toyota Camry-ku, aku jadi teringat pada mimpi semalam.
Almarhumah ibu dan Ielaki yang tak pernah aku jumpa.
Kemeja bertuliskan Ujang dan sederetan angka.
Mungkinkah deretan angka itu nomor handphone?
Apakah lelaki itu namanya Ujang?
Suara nada tunggu digantikan ucapan salam terdengar dari seberang sana, saat aku coba hubungi
nomor tersebut.
Suara perempuan.
“Apa saya bisa berbicara dengan pak Ujang?”, tanyaku sedikit ragu.
Hening tak ada jawaban sampai beberapa menit kemudian.
“Assalamu’alaikum, Iya ini dengan Ujang,” suara lelaki sopan.
Degg..!!
Ini pasti cuma kebetulan, dan jantungku berdegup keras.
Tak ingin berlama-lama di telepon, malam itu juga aku menyambangi rumah Ujang, lelaki kurus
berwajah tirus tersebut.
Usianya sekitaran 30, plus-minus.
Kami lesehan di atas lantai semen yang sebagiannya retak, di ruang tamu sebuah rumah petak.
“Panggil saya kang Ujang saja,”
ujarnya sopan.
Aku tersenyum bercampur heran. Dari wajahnya, memang dialah lelaki yang ada dalam mimpiku itu.
“Kalau boleh tahu, Bapak dapat nomor telepon ini dari mana?”
Dan berceritalah aku tentang mimpi aneh yang berulang 3 kali itu.
Kang Ujang diam. Wajahnya makin tirus mirip kucing restoran berharap makanan.
“Apa Anjeun pernah bertemu almarhumah ibu saya?”
tanyaku sambil menyodorkan foto almarhumah di Hp-ku.
Tak perlu waktu lama buatnya untuk berkata, “tidak”.
Aku menggaruk kepala.
“Kang, kalau bukan karena almarhumah ibu, saya tidak akan pedulikan mimpi itu”,
ujarku pelan sambil memegang pundaknya.
“Saya ingin mengajak kang Ujang pergi umroh.”
“Tapi saya ini mantan napi Pak. Belum sebulan bebas,”
ujar kang Ujang ragu.
Sepertinya dia tidak percaya dengan ucapanku/ajakanku umroh.
Bulu tengkuk di leherku berdesir aneh.

***

“Anjeun dulu kenapa masuk penjara?” tanyaku, duduk di samping kang Ujang yang sedang
terpesona.
Seumur hidupnya dia baru pertama kali naik pesawat sebesar ini.
Perjalanan 9 jam Jakarta – Jeddah, mubadzir rasanya kalau tidak mencari tahu tentang dia.
Lelaki biasa, mantan narapidana ini.
“Sebelum masuk penjara, kerja saya sebagai satpam. Belum setahun, kantor yang saya jaga
kerampokan. Teman sesama satpam, ternyata berkomplot.
Dua hari sesudah kejadian, semua pelakunya diringkus polisi.
Di pengadilan, teman itu berbohong kalau saya ikut terlibat. Padahal, waktu kejadian malam itu saya
diikat di toilet.
Hakim lebih percaya dia, akhirnya saya dipenjara. Vonisnya dua tahun,” ujar kang Ujang.
Aku menghela nafas…
“Sebenarnya, yang bikin saya sedih bukan itu Pak,”
sambung kang Ujang.
Air matanya sedikit meleleh.
“Lalu apa kang?” tanyaku penasaran.
“Saya gundah dan khawatir. Kalau saya dipenjara, siapa nanti yang akan merawat ibu.
Saya anak satu-satunya.
Apalagi ibu sudah lama lumpuh dan tidak bisa melihat.
Setiap hari saya menyuapi dan memandikannya.
Biar gaji kecil, setiap bulan saya selalu cukupkan membeli susu Ibu. Biar ibu tetap sehat.”
Kali ini bulir air matanya mulai berjatuhan.
Yaa Alloh, ternyata aku jauh dibanding kang Ujang.
Waktu almarhumah ibu dirawat di rumah sakit menjelang wafatnya, aku malah sibuk persiapan
rapat pemegang saham perusahaan.
Astaghfirulloh hal adhiim …
“Terus siapa yang mengurus ibunya kang Ujang?” tanyaku sembari mengelap mata.
Tak terasa aku ikutan menangis juga.
“Saya minta tolong teh Iis, saudara jauh dari kampung. Itu lho, perempuan yang menerima telepon
Pak Asep tempo hari.
Kebetulan saya masih ada sedikit tabungan, jadi semua uangnya dipakai buat mengurus ibu selama
saya dipenjara.
Dia yang mengurus ibu semenjak itu.
Saya minta dia datang tiap hari ke penjara, menceritakan kondisi ibu.
Kalau teh Iis datang dan cerita tentang Ibu, hati saya lega rasanya.
Hati selalu was-was kalau teh Iis datangnya telat, khawatir ada apa-apa pada Ibu.”
Aku cuma menunduk.
Malu pada lelaki di sampingku ini.
Jabatanku mentereng, gaji ratusan juta, tetapi tak bisa dibandingkan dengan ketulusan kang Ujang
dalam merawat ibunya.
“Yaa Alloh, apa yang Engkau mau dari pertemuan aku dengan lelaki sholeh ini?
Biar aku sadar kesalahanku?
Bukankah percuma karena almarhumah sudah tiada?”
Desahku dalam hati…
“Baru 6 bulan dipenjara, teh Iis kapan itu gak datang dua hari Pak”, kang Ujang melanjutkan
ceritanya.
“Saya was-was. Ternyata Ibu saya meninggal dunia Pak.
Sedihnya lagi, Pak sipir penjara nggak ngebolehin saya keluar sebentar buat ziarah ke makam ibu.
Saya cuma bisa nangis di penjara Pak. Mohon ampun sama Alloh.”
Air mataku menderas.
Duh Yaa Alloh, cobaan hidup lelaki ini ternyata berat.
Aku belum tentu kuat menjalaninya.
“Kang Ujang kan vonisnya 2 tahun. Kenapa bisa bebas lebih cepat?” tanyaku sambil menyeka air
mata.
“Oh, kalau itu karena kasus saya diperiksa kembali sama polisi dan pengadilan Pak,” ujarnya sambil
ragu mengambil kain hangat yang disodorkan awak kabin.
“Setelah sidangnya diulang, terbukti saya memang tidak bersalah.
Teman yang berkomplot itu akhirnya berterus terang,” ujar kang Ujang pelan.
“Sebetulnya saya sudah memaafkan teman itu. Sejak pertama kali difitnah.”
“Sejak pertama kali sudah memaafkan?” tanyaku tambah heran.
“Iya pak. Kalau ada orang memfitnah, buat saya cuma dua. Kalau fitnah itu benar, maka saya mohon
ampun sama Alloh. Tapi kalau fitnah itu salah, maka saya maafkan dan mohon ampunkan dia dari
kemurkaan Alloh,” ujarnya datar.
Degg..!!
Aku langsung teringat fitnah yang menimpaku setahun yang lalu.
Aku dituduh memanipulasi laporan pajak perusahaan.
Si penuduh berhasil aku sikat habis di pengadilan.
Aku beruntung dapat pengacara yang handal.
Tapi sekarang aku menyesal.
Mengapa sepertinya kata maaf tidak pernah ada dalam kamus hidupku selama ini.
Ternyata lelaki ini bukan orang biasa.
Kang Ujang, seorang satpam, mantan narapidana, tidak dikenal di bumi, tapi terkenal di langit.
Inilah lelaki langit yang semua malaikat pencatat kebaikan pasti mengenalnya.

***

Tiga hari di Mekkah kami menginap di Royal Clock Tower (Zamzam Tower).
Aku dan kang Ujang menghabiskan seluruh hari penuh dengan ibadah.
Tak cuma itu.
Ada yang spesial di umroh kali ini, dan itu semua karena kang Ujang.
Aku biasa telat sholat fardhu, lalu sholat berjamaahnya cuma di dekat hotel.
Tapi tidak saat bersama kang Ujang.
Kami selalu berada di shof depan, melihat langsung Ka’bah.
Aku belum pernah mencium hajar aswad padahal umroh berkali-kali, tapi tidak saat bersama kang
Ujang.
Badannya yang kurus justru berhasil membawaku mencium batu hitam itu berkali-kali sepuasnya.
Kami juga sholat di Hijir Ismail dan lama berdo’a di Multazam, antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Semuanya lancar tanpa halangan.
Kang Ujang terlihat sangat menikmati perjalanan umroh ini.
Dalam benakku, kalau pulang nanti dia akan aku pekerjakan sebagai satpam di rumahku.
Hari keempat kami berangkat ke Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawaroh.
Dalam bis VIP kang Ujang lebih banyak diam dan berdzikir.
“Kalau saya perhatikan, kang Ujang tak pernah kelihatan susah,” ujarku sambil memiringkan sedikit
badan ke arahnya.
“Alloh yang membolak-balikkan hati Pak,” ujarnya datar.
“Maka mintalah itu pada-Nya. Kalau kita menjaga Alloh, kita pun akan dijaga-Nya.”
“Maksudnya menjaga Alloh itu bagaimana kang?”
“ Jaga Alloh dengan menyempurnakan hari,” ujar kang UJang serius.
“Maksudnya bagaimana kang?”
“Hari yang sempurna itu diawali dengan bangun malam. Sholat tahajjud dan witir. Minimal 2 plus 1.
Lalu Dhuha minimal 2, dan sholat rawatib yang jumlahnya 12 raka’at. Utamanya sholat sunnah fajar
sebelum Subuh.
Selalu sholat wajib berjama’ah di masjid.
Membaca Al-Qur’an usahakan 1 juz setiap hari.
Senin-Kamis puasa sunnah. Itulah hari yang sempurna.”
Aku hanya terpana…
Mobil Camry, Mercedez Benz, Pajero, rumah mewah hasil jerih payahku, jadi seperti harta tak
bermakna…
Sampai di Madinah, setelah sholat Ashar di masjid Nabawi, kami berdesakan menuju Rawdhah.
Area khusus dengan karpet hijau itu memang jadi rebutan para jama’ah.
Kami menunggu giliran dengan sabar, berdiri di belakang pembatas putih.
Ketika petugas masjid membukanya, serentak setengah berlari kami menuju pojok paling dekat
dengan tembok di sebaliknya makam Rosululloh SAW.
“Kang, ayo cepat sholat di sini. Perbanyak istighfar, sholawat & do’a. Ini salah satu tempat yang
paling mustajab buat berdo’a,” ujarku sambil bersiap-siap sholat.
Di sampingku kang Ujang dengan khusyu’ mendirikan sholat sunnah.
Selesai sholat, aku duduk berdo’a di sampingnya yang masih berlama-lama sujud.
Area Rawdhah sudah sesak dipenuhi jama’ah.
Tak sampai 10 menit kemudian, muncul petugas masjid menyuruh kami segera pergi.
Waktu sudah habis.
Sekarang giliran jama’ah lainnya yang sudah menunggu di balik pembatas putih.
Aku melihat kang Ujang masih sujud.
Petugas masjid menepuk pundakku, menyuruh kami segera pergi.
Entah do’a apa yang dipanjatkan kang Ujang, mengapa begitu lama.
Aku mengguncang halus punggungnya.
Badannya terguling lemah.
Kang Ujang telah tiada…!
Wajah tirusnya tersenyum damai.
Dia meninggal dalam keadaan terbaiknya.
Husnul khotimah saat sujud di Rawdhah, taman surga.
Badanku lemas…
Jantungku berdegup kencang.
Lelaki langit itu telah kembali kepada Robb-nya…

***

Aku duduk sendiri di kelas bisnis.
Penerbangan Jeddah – Jakarta terasa lengang.
Baru saja aku terlelap di kursi, suara awak kabin membangunkan para penumpang untuk makan
malam, 6 detik kemudian aku terduduk diam.
Kenapa ibu yang membangunkanku? Ibu kan sudah meninggal.?
“Aa Asep, hatur nuhun pisan,” ujar ibu dengan logat Sundanya yang kental dan senyum khasnya…

***

Alloh SWT berfirman:

“Hai jiwa yang tenang.”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya.”
“Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,”
“dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr, 89: 27-30)
NAILA SALSABILA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here