Light In The Palestine Sky

Karya : Maharani Sri Auria

SMPIT AVICENA

7 Muharram 1420 H

Sendu berlalu seirama putaran roda,menjamah relung paling palung,memaah resah paling gelisah. Angin dingin menusuk tulang,membekukan Gaza dengan segala kegalauan. Rintik hujan kian menerpa keheningan. Menepiskan darah berceceran. Menyisakan relung paling baka. Berjuta rimbun asap tercipta. Awan hitam perlahan runtuh, menjadi hujan yang membunuh. Ku pandangi wanita cantik di hadapanku. Wajahnya cantik hanya saja, sedikit terlapis oleh debu para kolonialis. Ia lusuh dengan pakaian serta jilbab copang-camping terkena percikan darah sana sini. Meski lelah wajahnya tegas tak berubah. Cantik, seperti purnama yang menghiasi kota pecah ini. Dingin, sedingin udara di malam ini. Gelap,sepi,bimbang, menemani dinginya angina malam. Dengan senjata di dalam dekapan-nya. Dengan tetes air mata yang terus bergulir di pipinya.

 

“Menangislah Ran” kataku sambil menahan isak tangis yang kian akan tercipta.

 

Perempuan itu memandang puing-puing masjid yang sebagian telah hancur. Lama sekali.

“Aku tak boleh menangis” ucapnya dengan suara bergetar. Memainkan ricik-ricik air bagai suara gerimis yang turun menggugurkan segala luka, sambil di lap-nya air mata yang terus saja membasahi pipi.

“Tapi aku sangat ingin” bisiknya seraya terus menghapus jejak air mata yang mulai turun dari kelopak mata. Tubuhnya berguncang hebat,bergetar seiring rintik hujan yang semakin deras.

Alesha Kharany Arsyilia! Sungguh,aku tahu semua!

1 Muharram 1420 H

DUAARRR!!!

Suara ledakan besar terdengar memekakan telinga.

“Serang”

“Tembak”

“Bunuh”

“Bakar”

 

Hiruk pikuk. Semua berlari menyelamatkan diri. Banyak yang telah tertembak. Redup,Redam,Kelam,Ratapan,Tangisan serta Jeritan berhasil memeriahkan malam! Para lelaki,mencoba melawan dengan senjata seadanya. Bahkan dengan batu. Api berkobar, orang-orang terkapar. Menggelepar, seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Darah muncrat,mengalir, lalu membentuk beberapa genangan.

 

“BRAAK!”

Pintu kayu hancur berantakan di terjang mortir.

“Lari Rany!! ikuti aku, kita akan kabur lewat pintu belakang!”

Khaarany pun dengan sigap mengikuti langkahku,sambil lari dengan teratih-atih juga nafas yang tersenggal.

“DOR! DOR!”

Kharany merasa tubuhnya tertanam dalam tanah.Tepat di uluh hati,lalu di susul tembakan kedua. Tepat mengenai jantung-nya. Jiwanya bagai mengelupas. Tetapi taka da setetes air mata-pun yang keluar dari mata indah-nya. Terukir senyum yang datang seperti melambai,menyapa lewat kenang terurai. Aku hanya mendengar gema isakan dalam relung batin-nya. Aku hanya menangkap  bahwa detajk jantung-nya terdengar berkejaran. Ia berusaha untuk berteriak sekuat tenaga yang ia punya! Menyebut Asma Allah berkali-kali. Aku melihat semua! Juga ketika tangan-tangan Jahanam itu menyeretnya. Mereka menarik-narik jilbab-nya sambil tertawa tanpa henti. Lalu dengan sisa tenaga ia mencoba berlari. Jatuh-bangun,tersenggal kadang tersandung tubuh-tubuh manusia yang terhampar di tengah jalan. Di malam yang gelap larinya semakin cepat. Cepat sekali.

Ia selamat. Allah Maha Kuasa.

“Kharany..,Rany..” ucapku pelan.

Wajahnya dingin tetapi masih berusaha tersenyum.

“Rany rindu Allah, Rany mendambakan peristirahatan abadi. Kamu harus mengungsi ke tempat orang-orang pergi menyelamatkan diri” ia berbicara padaku dengan suara perlahan

“Tidak!” tegasku tiba-tiba. “Aku tidak akan pernah pergi!”

Aku menahan air mataku. Sejenak aku berfikir apakah aku berada dalam api penyucian? Dengan kerongkongan tersesak aku menatapnya lalu terlintas bait kata Engkau sangat berani. Tetapi apakah engkau tak menyadari?

Lawan-nya bukan manusia! Mereka tak punya nurani. Mereka hanya perebut! Lalu siapa yang akan membantu-mu Rany? Apakah orang-orang yang selalu berteriak mengatas-namakan HAM ini akankah tergerak hatinya pada deritamu? Akankah mereka mendengar jeritan menyayat dari tanah yang tercabik ini? Ah,mereka akan terus tidur juga tutup telinga. Mendengar-nya saja mereka tak mau Ran. Mereka punya banyak urusan,juga uang dari negeri antah berantah. Mereka bersahabat erat dengan yahudi biadap itu. Aku menahan air mata. Aku menangis di dalam hati,tidak ada ratapan.

“Kini milikku hanya Allah dan tanah ini,engkau harus berjihad demi kebenaran!” aku mengambang lirih. Terdiam dan membeku. Semakin terang namun tetap suram.

12 Muharram 1420 H

 Alesha Kharany Arsyilia

Kharany pernah datang ke tempat pengungsian di tepi barat sana. Menyaksikan mereka yang kelaparan juga menahan derita yang begitu pahitnya. Mereka butuh makanan dan obat-obatan. “Semoga Allah menghancurkan Zionis sebagaimana menghancurkan umat-umat terdahulu. Tolong,bukalah pintu perbatasan.” Titah salah satu seorang di tempat pengungsian. Kharany sungguh tak mampu lagi menahan sesak serta air mata, ia membentangkan kedua tangan-nya memeluk para balita. Menghibur mereka. Ia menguatkan para wanita, ia mengusulkan kepada seluruh pengungsi untuk membuat surat tentang kepedihan mereka, juga impian mereka, hingga mereka lupa akan lapar. Setelah itu Kharany mengumpulkan satu demi satu surat yang mereka tulis memasukkan kedalam kotak, tak lupa ia menaruh surat yang sudah lama ia buat juga. Surat-surat itu tak hanya sekedar tulisan semata. Tulisan itu adalah isi hati para calon penghuni surga.

“Biarkan kami membela diri!” serunya garang,ketika seorang polisi palestina melarang mereka bertindak. Padahal saat itu juga mereka telah di serang secara membabi buta.

“Aku tak mengerti. Mengapa kalian membiarkan yahudi jahanam itu? Mengapa kami tak boleh mempertahankan nyawa kami sendiri? Dimana keadilan?” teriak Kharany.

Orang-orang pengungsian memandang-nya dengan mata merah serta basah dan sukma tercabik. “Siapa Ukhti pemberani itu?” mereka berbisik.

“Alesha Kharany Arsyilia,puteri Muhammad Nazief Zayyan. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga itu.” sahut yang lain.

13 Muharram 1420 H

Kupandang lagi, Kharany lalu sayup, kudengar lagi irama langkahnya,saat memasuki gerbang perjuangan. Mataku menutup,aku tenggelam dalam dunia berliku-liku. Aku melihat sekejap jalan yang telah ku lalui.

“Aku tak boleh berdiam diri dan terpaku. Yahudi atau siapapun boleh tinggal disini,tetapi tidak merampasnya!” ucap Kharany dengan lantang-nya.

Ketika kita,bahkan kanak-kanak berjuang membebaskan tanah ini,menimpuki para tentara Israel dengan batu. Mereka membalasnya dengan granat!” begitu katamu di sore yang pilu di tempat pengungsian itu. Mampukah engkau Kharany?

Tak ada keadilan bagimu. Aku juga melihatnya Rany. Kulihat pemimpin negaramu yang bersembunyi di balik semua mulut manis dan janji palsunya. Selama serangan zionis yahudi terhadap Palestina,terkadang aku merasa gelisah dan takut mendengar suara jet-jet tempur yahudi yang setiap saat menghujani kami dengan berbagai serangan,terutama di jalur Gaza,namun terkadang juga aku merasakan secercah harapan. Karena ternyata jalur Gaza yang di klaim akan dikuasai oleh yahudi dalam waktu singkat tidak terbukti.

20 Muharram 1420 H

Aku hanya separuh di ujung malam. Tanganku bergetar hebat-nya,aku menahan air mataku. Gelap langit benar-benar gelap menyisakkan satu cahaya kecil di atasnya seakan langit-pun berkata surga yang akan langsung menjemput-nya. Setiap kali kutatap mata cantik-nya yang kini tertutup di bawah kerudung hitam berikatkan kalimat syahadah,kutemukan ribuan luka yang tersimpan di raga-nya. Secepat hembusan nafas kau berlari membawa berita dalam perut ibu pertiwi yang tidak lain adalah surga.

Malam muram di Gaza. Dalam sebuah bilik kecil, Kharany sedang menyiapkan sesuatu. Belati-Senjata api-Granat-Isi peluru yang berjuntai bagai kalung,dan senjata yang terlihat dalam sebuah peti.

HUPP!

Khranay bangkit dari duduknya. Perlahan di ambil-nya tali tipis. Dirangkain-nya beberapa Granat tangan bagai kalung. Dua senjata Ak 47 dan pistol, serta menyelipkan Belati di pinggang.

“Rindunya aku padamu ya Rabb..,” katanya,tersenyum tanpa beban. Tak lama Kharany sudah membenahi semua itu. Sebuah rencana siap dimainkan!

Dia berlari,membawa semua impian dan tujuan hidup-nya. Seakan menebar rindu di laut lepas,ia berlari bebas dengan kencang-nya. Bersama peralatan di balik baju-nya, serta apakah itu..?? kabel merah-kuning yang di sambung ke penunjuk waktu.. kemana kau berlari Kharany?

Kemudian,setelah jauh berlari, di hadapan-nya tempat pusat Komando Tentara Israel. Kharany mencoba menyelinap dan menaruhkan beberapa Granat di markas tersebut. Merakit semua yang telah di persiapkan,menautkan beberapa Granat di tiang-tiang. Setelah itu ia mulai berjalan perlahan mendekatti beberapa sekelompok tentara Israel.

Kharany masuk ke dalam markas itu,namun..

“HUA..HA..HA..,” tentara Israel itu tertawa melihat kedatangan wanita yang bagi mereka sangat menggetarkan gairah. Lalu ia di sambut dengan berbagai hinaan dan pelecehan dari mulut bengis mereka.

Kharany terkepung.

“ALLAHUAKBARR!” teriak Kharany

“ALLAHUAKBARRR!!” ulang-nya berkali-kali. Aku dapat merasakan nafasnya menggelegak. Para pengecut itu menyerang Kharany! Kharany membalas dengan senjata yang ia siapkan sebelum-nya. Kharany sempat bergulingan menghindari desingan peluru.

Kharany sendiri melawan puluhan Zionis itu. Kharany sungguh pemberani. Banyak tentara Israel yang tewas tertembak dan hancur terbakar. Tapi.. Peluru telah habis, granat sudah taka da lagi di tangan. Kharany sungguh sudah tidak bersenjata.

Terdengar teriakan “Hentikan tembakan!” teriak komandan pasukan. “Tangkap dia hidup-hidup. Dia hanya seorang wanita biasa yang dengan berani nya masuk ke kandang musuh-nya sendiri. Sudah di pastikan ia ingin memberikan tubuh-nya untuk kita. Aku tidak ingin ia mati dengan mudah.”

DUAAARR!!

Namun sebelum itu terdengar ledakan di sertai api-api yang mulai menjalar dengan cepat-nya. Tentara bahkan terkecoh dengan bunyi ledakan yang amat besar itu. Di saat itu pula aku meraih tangan-nya, menarik kencang di sertai tangan yang satu-nya terus menembaki ke seluruh penjuru tanpa ada tujuan. Aku membawa-nya keluar dari markas itu sebelum Granat berhasil meledakan bangunan itu. Bangunan itu meledak karna ulah Kharany yang menyelipkan-nya sebelum masuk.

“Banyak sudah pasukan kita yang tewas.”

“Tangkap dia! Jangan sampai ia lolos, kita akan perkosa ramai-ramai!”

BIADAPP!! Marahku menjalar,sembari berlari mengejar kawan-nya Gibran Adnan Zayyan. “Kita masuk di rumah itu! Kita sembunyi disana Ran!” Teriakku sembari menunjuk tangan ke rumah tua yang sudah sediki hancur,namun masih ada bilik kokoh untuk bersembunyi. Aku membuka rumah tua itu,memeriksa sambil menyuruh Kharany masuk. “Kita akan bersembunyi di balik reruntuhan ini. Kita beristirahat disini dulu,untuk menambah energy seraya berlari lagi.”

Kharany pun menurut dan terduduk di sudut ruangan dengan kepala bersender di tembok,sambil mendekap senjata yang ia pegang. “Menangislah Ran,” kataku sambil menahan isak tangis yang kian akan tercipta.

DUAARRR!!!

Suara ledakan besar terdengar memekakan telinga.

“BRAAK!”

Pintu kayu hancur berantakan di terjang mortar.

“Lari Rany!! Ikuti aku,kita akan keluar lewat pintu belakang!” ucapku dengan penuh ketegangan. Kharany pun dengan sigap mengikuti langkahku. Sambil berlari dengan teratih-atih juga nafas yang tersenggal.

DOR! DOR!!

Seperti cahaya yang memotret dan mengagetkan dari langit,jantungku melemah namun tetap berdetak berpacu kencang. Ia terseyum,senyuman manis yang sudah lama tak kulihat lagi. Tapi mengapa ia tersenyum..

Tentara-tentara Israel itu keheranan melihat wanita yang berlumuran darah itu tersenyum dengan bahagia. Mengapa kau tidak lari Kharany?

Kemudian terdengar suara tipis dari bibir-nya “Aku cinta Allah dan Rasul-nya. Juga tanah ini,” ucap Kharany,aku mengganguk. “Karena itu aku mencintaimu” kataku sambil menahan isak tangis. “Adnan.. aku titipkan surat di pengungsian, hasil tulis tangan anak-anak sendiri. Bawalah surat-surat itu bersamamu, berikan surat itu untuk dunia ini. Aku akan membawa surat kecil juga untuk Allah.”

“ALLAHUAKBARR!!” teriak Kharany.

Kharany telah menjadi syahidah.

25 Muharram 1420 H

Aku hanya separuh di ujung malam. Tanganku bergetar hebat-nya,aku menahan air mataku. Gelap langit benar-benar gelap menyisakkan satu cahaya kecil di atasnya seakan langit-pun berkata surga yang akan langsung menjemput-nya. Setiap kali kutatap mata cantik-nya yang kini tertutup di bawah kerudung hitam berikatkan kalimat syahadah,kutemukan ribuan luka yang tersimpan di raga-nya. Secepat hembusan nafas kau berlari membawa berita dalam perut ibu pertiwi yang tidak lain adalah surga.

Sendu berlalu

Seirama putaran roda

Menjamah relung paling palung

Memaah resah paling gelisah

 

Menciptakan rindu paling syahdu

Menguak ingatan yang sukar di lupakan

Lelap dalam kemilau cinta

Yang kini tinggal mimpi belaka

-Alesha Kharany Arsyilia

Maharani Sri Auria

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here