Oleh :LIim Kamilah (161)

Setamat SMA, hijrah keluar kota dimana perguruan tinggi yang menjadi harapan ada di situ. Dengan karuniaNya diberi kesempatan menimba ilmu di perguruan tinggi bergengsi. Berkuliah di dalam naungan nama besar salah satu Institut terbaik di Indonesia. Terkagum-kagum dengan fasilitas dan gedung perkuliahan yang kokoh, megah, super lengkap. Serasa mendapat hidup dengan kemewahan tingkat tinggi bila sedang berada di kampus. Kolam renang, lapangan basket, perpustakaan dengan textbook luar negeri yang lengkap, kursi yang mahal dan empuk, lab komputer yang canggih, tersebar di tiap sudut kampus kamar mandi lengkap dengan bathtubnya, taman-taman yang indah dan teduh, kantin-kantin mewah dengan menu keren, dan segala hal yang membuat hati berdecak kagum. Baru sadar menjadi rakyat biasa lagi setiap tiba di tempat kost. Kamar berukuran kecil dengan fasilitas seadanya sesuai kebutuhan mahasiswa. Makannya catering atau masakan si bibi atau ke warteg. Malam-malam jelang ujian begadang sambil mampir ke warung indomie yang lezat nian. Terkenang hingga kini.

Di awal kuliah, para guruku adalah pasukan militer mulai dari bapak perwira hingga bintara serta kakak-kakak resimen mahasiswa. Belajar di alam pegunungan yang dipenuhi perkebunan teh. Selama satu bulan para guru menggojlok kekuatan fisik dan mental kami dalam pendidikan dasar kemiliteran ini. Belajar terjun, panjat tebing, menembak, pembayatan di lumpur, jurit malam, simulasi perang, baris berbaris, makan dalam waktu 5 menit, longmarch, lari pagi, bongkar pasang senjata, berpakaian rapi kinclong dan lengkap, dll. Para guru kami mendidik dengan penuh disiplin dan tak memberi kami kesempatan untuk bernafas. Setiap detik dipantau. Tiada hari tanpa hukuman dan makian. Tapi air mata sudah tak mampu keluar. Saat menjalaninya terasa begitu berat dan banyak dendam di hati. Namun saat perkuliahan militer selesai, para guru mengembalikan kami dari gunung ke kampus, berpisahlah kami. Barulah hujan air mata membasahi pipi. Ternyata kami begitu mencintai para guru kami yang super keras itu. Berat rasanya harus berpisah dengan para guru. Kami pandang kepergian mereka hingga punggung mereka semakin terlihat mengecil dari pandangan dan akhirnya lenyap tak nampak lagi.

Kuliah berlanjut di bulan kedua. Seragam militer hijau dan sepatu booth tentara, kopel berisi mug yang selama ini setia di pinggang kami, senjata yang selalu disandang, lepas kini semuanya. Kami bisa berpakaian normal seperti layaknya mahasiswa pada umumnya. Guru kami pun normal, tak nampak para guru dengan kumis tebal melintir dan wajah garang lagi.

Bu dosen yang lembut halus, anggun, tinggi semampai. Membimbing dengan penuh kasih. Terlihat berusaha keras ingin menyampaikan materi berat supaya jadi ringan. Ramah dan hangat pada semua mahasiswa. Senang bila kebetulan bisa jalan bareng dari gerbang kampus ke gedung kuliah. Berita duka terdengar saat aku sudah meninggalkan almamater. Ternyata bu dosen berumur pendek. Kalau tidak salah, penyakit kanker telah merenggut hidupnya yang mulia itu. Hampa dan senyap menyapa rasaku.

Dosen lincah yang energik membawakan mata kuliah umum yaitu Bahasa Indonesia. Beliau mampu menghipnotis kami sehingga materi biasa terasa jadi menarik dan istimewa. Tak ada di kamusnya marah-marah ke mahasiswa. Beliau seolah profil manusia tanpa problema. Relax dan bahagia bersamanya. Tuturan materinya terasa renyah. Suatu saat kami tak memperhatikan beliau saat menjelaskan karena ada satu pemandangan aneh di jendela. Kebetulan jendela ruang kuliah menghadap ke taman berbukit hijau dan di puncak bukit ada ruangan luas seperti lapangan lengkap dengan kantinnya. Saat itu terlihat oleh kami ada seorang dosen laki-laki kami sedang berusaha menggandeng dosen wanita yang berjalan di sampingnya. Dosen laki-laki itu memang humoris dan geer tahu betul kami sedang memperhatikannya sehingga dengan bangga dia bikin kode kemenangannya kepada kami karena sukses menggandeng wanita dambaannya. Hahaha, kami jadinya bukan memperhatikan dosen Indonesia, kami malah terbahak lihat dosen kami yang di luar. Bu dosen Indo ketika dicuekkan tak marah malah dengan ikhlas berbaik hati kepada kami untuk memperhatikan dengan serius hal itu selama sekian detik. Kemudian dengan jenaka dan cerdas, beliau mengembalikan kami ke konsentrasi belajar.

Bu dosen Indo juga pernah memberi PR yang mengesankan hingga sampai kini aku masih sering mengerjakannya secara otomatis tanpa disuruh. Saat itu tema PR-nya adalah mengamati penulisan kata-kata yang salah oleh masyarakat. Objeknya harus diambil dari sepanjang jalan yang kami tempuh mulai dari kampus hingga ke tempat kost. Wah, ternyata kami menemukan banyak sekali kesalahkaprahan penulisan kata di kalangan masyarakat sekitar berdasarkan hukum EYD saat itu (kalau sekarang bukan lagi EYD tapi PUEBI ya). Ketika lewat tukang permak, ada kata lepis. Kemudian lewat kios spanduk, ada tulisan tabloit, dsb. Tak terasa kertas PR sudah terisi penuh. PR tersebut kami serahkan ke bu dosen dan dengan asyiknya kami bahas bersama penulisan yang benarnya. Waduh! Sungguh pelajaran bermakna. Akhirnya gara-gara PR itu, sampai kini aku jadi jeli mengamati tulisan kalau sedang melihat lingkungan dan sepanjang jalan. Sekuat tenaga tidak menegur pemilik tulisan takut tersinggung padahal gatel ingin membetulkan.

Dosen komputer, baik dan berbudi pekerti tapi tak begitu canggih ngajarnya. Jelek sih tidak tapi ekspektasi mahasiswa yang datang dari berbagai pelosok Nusantara yang datang dengan seribu harap serta beragam karakter suku membuat suatu hari pak dosen tertimpa ujian sebagai pendidik. Beliau didemo di kelas tentang teknik mengajarnya. Namun hebat, beliau tetap tenang dan tak marah. Malah bertanya, “Ya, siapa lagi yang merasa kalau saya mengajarnya tak bisa dimengerti?”. Ya Allah, aku kagum dengan kemampuannya mengendalikan akhlaknya ketika sedang tersudut malu dan pastinya hatinya menangis. Tak ada guru yang merasa paling sedih selain guru yang tak diterima oleh muridnya. Setelah kejadian itu, perkuliahan masih beliau selesaikan hingga akhir semester. Rasa dendam tak beliau perlihatkan. Terbukti dari pemberian nilai dari beliau yang tetap objektif untuk kami yang berdemo. Beliau tidak menekan nilai kami. Sungguh mulia. Semoga pak dosen diberi Allah kemampuan yang mumpuni sehingga bisa canggih secanggih akhlaknya dan para mahasiswa dapat menerimanya.

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here