Orang ke-3 Bag 4
Oleh : Rani Yuliana

Setibanya Riri di sebuah rumah kontrakan petak yang hanya di sekat triplek dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan. Tampak lelah rupannya Riri ketika seharian duduk di bangku bus yang penuh penat dengan aroma bau badan dan lepek kulit tubuh yang berkeringat, membuat Riri ingin bergegas mandi.
Tak berhenti sampai di situ, Riri mencoba keluar kontrakan untuk mencari makanan. Hari sudah mulai petang, Riri pun berjalan menyusuri jalan setapak yang tampaknya hanya dapat di lalui oleh sepeda motor dan pejalan kaki saja. Setelah Riri membungkus nasi dan mengambil beberapa gorengan yang di masukkan ke kantong plastik miliknya.
Selang sehari kemudian Riri mencoba melamar pekerjaan dengan membawa surat lamarannya. Tak harus menunggu waktu begitu lama. Riri mendapatkan panggilan kerja di perusahaan yang Riri harapkan.
Riri kini mulai merasa kesepian setalah dirinya harus berpisah dengan keluarganya. Namun tak mematahkan semangatnya untuk berusaha bangkit dari keterpurukannya. Riri yang sekarang sedikit terlihat tegar dari sebelumnya. Namun di saat dia harus fokus pada pekerjaannya, dia mendapat sepucuk surat dari adiknya yang berisikan tentang ibu yang sedang sakit.

“Assalamu alaikum

Apa kabar kak Riri?. Semoga dalam keadaan sehat. Begitupun keadaanku di kampung dalam keadaan sehat.
Semoga dengan kabar ini kak Riri bisa tetap bersabar. Karena sudah beberapa bulan ini Ibu bolak balik ke rumah sakit dan hasil diagnosa dokter, kalau Ibu menderita kangker otak stadium akhir. Kak Riri tetap jaga diri baik-baik ya. Kalau nanti ada waktunya, kak Riri sempatkan waktu untuk pulang ke rumah. Karena ibu ingin sekali bertemu dengan kak Riri.

Wassalamu alaikum”

Salam sayang
dari adikmu Astri

Begitu derasnya linangan air mata Riri hingga isak tangisnya tak tertahankan. Sang Ibu yang sudah sekian lama sudah membesarkannya kini harus berbaring tak berdaya. Menahan sakit yang di deritanya.

Waktu terus berlalu begitu saja. Riri masih tetap memikirkan keadaan sang Ibu. Namun Riri belum bisa mengajukan cuti karena baru saja masuk kerja.

Siang itu di sudut kantin duduklah seorang Riri sambil menikmati makan siangnya. Tak seperti biasanya, Riri kali ini terlihat murung dan menyendiri duduk di bangku paling ujung tidak begitu banyak orang hanya ada salah seorang teman Riri yang beranama Putri. Tak lama rekan kerja Riri menghampiri kemudian duduk di sebrang mejanya dengan terus memandangi Riri yang terlihat murung.
Namun melihat Putri yangvtenagh asyik mengajaknya berbicara. Dengan lirih mereka berbicara mengenai ibunya yang sedang sakit.
” Riri, kamu kenapa?” tanya seorang temannya yang duduk di sampingnya.
” tak apa, hanya sedikit masalah” jawab Riri
” Masalah apa? Bicaralah padaku, mungkin bisa meringankan beban kamu” Tegas Putri meyakinkan Riri.
” Ah sudahlah, ini masalahku, kamu tak perlu tahu” Riri perjelas ungkapannya. Dan tak sedikitpun mengatakan apa-apa pada Putri. Nampaknya putri agak sedikit curi perhatian Riri supaya suasanya tak tegang. Karena Riri tak merespon.

” Hai, tuh lihat pria bertopi itu terus melihat ke arah kita, apa jangan-jangan sedang memperhatikan kamu? ” gusar Putri saat melihat pria di sebrang meja makannya.
Nampaknya Pria itu menundukkan kepalanya, karena tidak ingin wajahnya terlihat oleh siapapun.
Sesekali Putri menatap kembali pria itu, dan akhirnya pria itupun bergegas pergi meninggalkan meja makannya.
Putri mulai berfikir keras tentang pria itu. Karena selama mereka makan, pria itu terus memperhatikan Riri dengan pandangan mata yang sangat tajam.
” Apa sih yang sedang kamu fikirkan, Put? ” tanya Riri penasaran
” Nah, tuh kan, kamu juga pasti penasaran. Sama orang yang bertopi tadi. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana y? ” tegas Putri penuh semangat.
“Sudahlah, itu hanya halusinasi kmu saja” tutur Riri

Tak lama kemudian mereka begegas masuk ke ruang kerja, dan masih saja Putri membicarakan pria itu. Meski Riri tak menggubrisnya. Namun Putri masih saja penasaran. Selang waktu bersamaan ketika Riri hendak pulang kerja dan menunggu bus jemputan. Tiba-tiba berhenti motor di depannya. Seorang pria terlihat bertopi dan tertutup helm, dengan jaket tebal dan tas yang menempel di pundaknya. Sang pria tersebut menawarkan Riri untuk duduk di motornya dan mengantarnya pulang. Namun tak semata-mata Riri mau menerima tawaran itu. Karena Riripun tak mengenalnya.

Bel telpon berdering kencang, nyatanya telpon itu dari Astri adik Riri. Kemudian Riri bergegas meninggalkan pria itu dan berusaha mengangkat telponnya dengan rasa deguban jantung yang berdebar sangat kencang.
” Kak, bisa pulang sekarang? ” tqnya Astri
” Iya, ada apa Astri? ” Riripun bertanya balik
” Ibu, kak. Ibu sekarang di HCU, kakak pulang ya? ” suara isak tangis Astri terus terdengar di telpon. Dan tak lama kemudian Riri meng iya kan untuk segera pulang.

Setibanya di rumah kontrakannya, Riripun mengemas baju untuk di masukkan ke tas nya. Tiba-tiba telpon berdering kembali.
” Kak, yang sabar, yang iklas ya, ini sudah kehendak Tuhan. ” suara Astri terdengar dengan isak tangisnya.
Nampaknya Riri tak kuasa menahan genggaman telpon yang berada di tangannya. Riri tak sadarkan diri di rumah kontrakannya. Untung saja Putri sudah tiba setelah membeli beberapa makanan ringan.
” Riri, kamu kenapa? ” sambil menepuk-nepuk pipi Riri yang tak sadarkan diri. Lalu Putri melihat telpon yang masih menyala. Mengira itu hal yang penting. Putripun mengangkatnya dan berusaha bertanya.
“Hallo, ini sy Putri, maaf ini dengan siapa y? ” Tanya Putri Saat mengangkat telpon tersebut.
” iya hallo, saya adiknya Riri, saya minta tolong sampaikan ke kak Riri. Kalau Ibu sedang di ruang HCU. Kak Riri harus pulang sekarang” kata Astri penuh harap.
” Iya, nanti saya sampaikan ” lalu Putri menutup telpon itu.
Akhirnya Riri pun terbangun, dan terus meneteskan air matanya.

Riripun pulang dengan menggunakan bus. Mata Riri masih terlihat lebam. Bibirnyapun tak sanggup berkata-kata.
” maaf mbak, ada org kah di sini?” tanya seorang pria sambil menunjuk ke arah kursi di samping Riri.
Tak berfikir lama, tanpa menjawab pertanyaan sang pria itu, Riri bergeser ke sebelah kursi dekat kaca bus.
” Mau kemana mbak? ” tanya sang pria sebelah Riri. Namun Riri hanya bergumam dalam hati dengan lirikan kesal ke arahnya.
” Oh, maaf mbak, sy mengganngu y? ” tanya ulang sang pria tersebut.
Entah perasaan apa yang membuatnya sedikit penasaran dengan seseorang yang sedang duduk di sebelah nya. Tiba-tiba muncul perasaan yang tak biasanya. Riri hanya dapat berprasangka baik saja. Namun meski masih bertanya siapa pria tersebut.
Buspun berhenti di sebuah rumah makan, lalu Riri mencoba turun hanya untuk sekedar ke kamar mandi. Ketika hendak memberikan uang ke kotak amal di dekat toilet umum, Riri sontak terkejut kalau dompetnya tertinggal di tas. Lalu tiba-tiba saja sang pria yang duduk satu bangku itu menawarkan untuk memakai uangnya terlebih dahulu.
” Pakai saja uangku” jelas sang pria itu dengan penuh harap
Lalu Riri berusaha menatap wajahnya dengan sedikit senyum kecutnya. Nampaknya Riri baru menyadarinya kalau pria tersebut adalah orang yang pernah di temuinya ketika pertama kali menunggu di halte bus dengan meninggalkan lukisan tangan yang bertuliskan Adi.
” Loh ” terkejutnya Riri terus menatap wajah tampan Adi yang tersenyum sipu.
” hallo!, ada apa y dengan wajah saya? Tanya Adi, dengan sesekali melihat wajah Riri yang terperangah seakan tak menyangka akan bertemu lagi di lain tempat yg berbeda.
Entah apa yang harus Riri lakukan, otaknya terus berputar, detakkan jantungnyapun semakin kencang. Riri berharap semua akan baik-baik saja setelah hari ini.
Adi beeusaha meyakinkan kalau dirinya adalah orang yg pernah dikenal dari kecil. Adi yang cengeng yang selalu usil sewaktu masih bermain bersama di teras rumah Riri dan Astri. Sedemikiannya sampai-sampai Riri hanya dapat tersenyum membalas cerita Adi yang begitu panjangnya. Hingga waktupun berlalu begitu saja.

Setibanya di terminal, Riri di jemput sang ayah yang menggunakan sebuah motor tua menuju ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Riripun terkejut ketika melihat sang ibu harus menahan sakit dan berbaring dengan beberapa alat yang menempel di bagian badannya.
” Bisa bicara dengan keluarga Ibu Rahma? ” tanya dokter mengarah ke arah Riri dan Astri saat itu
” iya dok, kami anak-anaknya” jelas Riri pada dokter
” mari ke ruangan saya” ajak sang dokter
Kemudian di dalam ruangan itu, dokter menceritakan penyakit yang di derita sang ibu. Tak kuat menahan pilu yang mendalam, sang dokter sesegera mungkin akan memberikan tindakan oprerasi pada Ibu. Namun Riri menyangkalnya, karna kondisi Ibu yang semakin lemah membuat Riri tak tega apabila harus melihat Ibu semakin menderita.

*
Bersambung
Bekasi/Kamis 10 September/16.40/tantangan ke-12 KPPBR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here