MUHASABAH

Oleh : Rissa Churria

Ini adalah waktu menunggu subuh, duduk bertafakur, sembari memuji kebesaran Asma Allah. Mencoba meluahkan apa yang penuh dalam dada. Pagebluk melanda negeri kita, tapi bukan hanya Indonesia, resah itu merambah ke seluruh dunia. Wabah penyakit yang disebabkan Covid 19 membuat semua orang gelisah.

Ini adalah musibah dunia yang harus kita sikapi dengan bijaksana. Bukan waktunya menuding sana sini untuk saling menyalahkan, tapi marilah berfikir jernih, bahwa ini adalah cobaan yang Allah berikan kepada mahluknya yang bernama manusia. Apakah kita harus putus asa? jawabanya tentu tidak. Terpenting ikuti anjuran pemerintah, mari kita jaga diri dan keluarga dengan sebaik baiknya, tetap di rumah dan tidak kemana mana kalau tidak terlalu penting.

Tetap di rumah!
Kalimat itu menjadi sebuah dilema besar bagi orang orang yang bekerja hari ini untuk makan hari ini. Tetap di rumah, keluarga butuh makan. keluar untuk bekerja keadaan makin menghawatirkan. Bagi sebagian orang yang punya pekerjaan tetap, penghasilan tetap, mungkin tak masalah, tapi buat buruh harian yang penghasilannya pas pasan, bahkan guru honor yang tak dapat honor bila tidak ada KBM, ini juga menjadi permasalahan.

Seperti halnya tukang tape yang lewat depan rumah tadi sore, gerobak tapenya masih penuh, padahal hari sudah menjelang senja. Modal kecil yang dimiliki berharap memanjang, agar dapat menafkahi keluarga. Tapi orang orang takut keluar rumah, dan takut membeli dagangan yang dia jajakan. Tukang tape, bercerita sambil sesekali matanya berkaca kaca. Aku membaca pedihnya seperti aku membaca pedihku.

Ya Allah, segera angkat virus yang mematikan dari negeri ini. Berita berita serangan virus dan kematian di mana mana. Kengerian melanda semua warga masyarakat. Ada baiknya kita menepi di dalam rumah, Corona mengajarkan kepada kita untuk menghadirkan sunyi. Sunyi hanya ada Allah dalam diri.

Tempat tempat ibadah ditutup, ka’bah dipagar,masjidil Haram sepi, Umroh dibatalkan, Gereja, bahkan vatikan juga sunyi dari jemaatnya. Mari kita merenung, ternyata keramaian itu rapuh, terkadang dalam kerumunan atas nama kebaikan juga rapuh. bahkan di Rumah Allah sekalipun juga rapuh, seolah semua hanya eforia dan dalam hati kita tak dapat menghadirkan-Nya.

Allah hendak mengajarkan kita lewat Corona, Bagaimana kita dapat mengahdirkan sunyi, hingga tak ada selain apapun kecuali Allah semata. Bagaimana kita menangis dan pasrah kepada-Nya. Berharap dan bersandar hanya pada kekuatan-Nya. Pasrah dengan sebenarnya, bukan hanya ungkapan di bibir saja.

Allah memberikan wabah Corona tentu ada maksud dan hikmah besar di sebaliknya. Mari terus bermuhasabah sembari menghadirkan Allah dalam hati dan segala gerak kita, agar Allah senantiasa menjaga, merahmati dan ridho kepada kita.

#Lubang Buaya, 22.03.20
#Tantangan Hari Ke-5
#Tantangan14HariKGPBR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here