Merindukan Generasi _Qurrotu ‘Ayun_ di Era Digital
Oleh : Wahyudin, NS.

Pasca liburan, kehidupan santri selalu penuh warna. Dua pekan santri bersama orang tua di rumah. Tentunya memiliki pengalaman bervariasi. Dari karakter anak yang dinamis, hingga praktik keberagamaan di rumah. Samakah perikalu anak saat di pesantren dengan waktu di rumah? Pasti sejuta cerita bisa diungkap.

Semua orang tua berharap, para santri menjadi “qurrotu ‘ayun” penyejuk hati saat dipandang. Disiplin dalam shalat dan tadarrus alquran, hingga membantu aktivitas di rumah. Puncaknya, menghiasi diri mereka dengan akhlakul karimah.

Coba bayangkan, andai kita melihat anak saat di keheningan malam para santri duduk bersimpuh, sujud dengan khusyu dilanjutkan sayup terdengar alunan ayat suci alquran dilantunkan dari dalam kamar. Subhanallah, betapa bahagianya orang tua memiliki generasi qurani. Dilanjutkan mengetuk pintu langit, doa penuh tadhorru dengan ucapan “robbigfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shogiiroo”. Sungguh dahsyat, praktik spiritual kehidupan santri bila melazimkan pengamalan religius yang ideal.

Sebagai wali santri, tentunya saya berharap saat santri kembali ke pesantren kian menguat tradisi pesantrennya. Kian taat menikmati tegulasi yang ditetapkan pesantren. Beberapa catatan sederhana bisa dieksplor.

Pertama, selalu disiplin melaksanakan shalat wajib dan sunnah. Diiringi tadarrus alquran dengan tartil dan sekaligus menghapalnya secara bertahap. Bagi santri tingkat aliyah tentunya berupaya memahami tarjamah dan tafsirnya. Klimaksnya bersama-sama mengamalkan ayat suci Alquran _step by step._

Kedua, di era digital ini para santri idealnya memperkuat dalam hal literasi. Hasil bacaan, dialog, setelah perenungan dan pengalamannya idealnya dituliskan kembali sehingga mampu menciptakan karya ilmiah dengan berbagai _genre_. Pernah saya menginap di pesantren, ternyata pasca shalat subuh para santri di sekitar _qoah_ saling berhadapan mendalami bahasa arab dan bahasa inggris. Luar biasa, harapan ke depan generasi _qurrotu ayun_ mampu berkomunikasi secara aktif di tengah era digital yang sangat kompleks. Di sisi lain, dengan kompeten ranah bahasa, para santri mampu menggali ilmu dari buku referensi aslinya. Maka tradisi ilmiah akan tercipta di lingkungan pesantren. Bahkan nuansa dialektika lahir pada kahidupan mereka.

Ketiga, menyambut era emas 2045 insya Allah akan lahir generasi yang siap pakai. Para santri menjadi sosok penerus yang _ulul albab_. Berkualitas iman, ilmu dan amal. Selamat kembali ke pesantren penuh keindahan dan dinamika. Bukankah generasi sekarang akan menggantikan generasi hari ini pada dekade akan datang? Semoga Allah SWT membuka pikiran dan hati para santri, sehingga generasi _qurratu ayun_ lahir di era digital siap mengisi ruang kehidupan lebih bermakna. Wallahu ‘Alam.

*)Wali Santri. Penulis Buku Jejak Mualaf Literasi dan Literasi Spiritual.
Subang, 02 Desember 2021.
Saat Mengantar Santri Pondok Pesantren Darussalam Pkl. 15.40 Wib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here