TETAP SAJA PENDATANG
#Part9
Neng Ceha

“Emak… Emaaaaak….”, Panggil Abah dengan suara parau. Emak pun segera menghampirinya. Abah terlihat sangat pucat dan menggigil kedinginan. Emak langsung menyelimutinya dan memijit-mijit kakinya.

Semenjak sihir yang masuk ke dalam rumah kami, kondisi Abah semakin memprihatinkan. Emak sebagai istri merasa sangat terbebani dengan cobaan yang tak jua usai. Setiap malam ia bermunajat ke pada Allah, memohon perlindungan dan kesembuhan Abah.

Setiap malam, emak rutin membaca surah Yasin. Aku yang masih kecil hanya bisa memerhatikan saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya dilakukan emak.

Dari ke delapan saudaraku, hanya aku yang selalu diajak kemana pun emak dan Abah pergi, terlebih ketika dalam masa pengobatan Abah.

###
“Ayo bah kita berangkat sekarang !”, Ucap emak berseru agar Abah bersiap.

“Iya, tapi ini sepatu Abah gak muat Mak, kalo gak pakai sepatu khawatir kedinginan kakinya”, keluh Abah.

“Pakai aja itu bah, nanti kalau di jalan ada tukang jual sepatu, kita beli”, Abah mengiyakan kata emak, dan kami pun berangkat setelah menunaikan sholat isya dengan menaiki angkutan umum menuju ke terminal Bekasi.

Setibanya di terminal, emak menuntun Abah dan menggendongku menuju ke area bis jurusan luar kota.

“Hati-hati bah naiknya”, kami pun menumpangi sebuah bis besar.

“Mak, emak… Liat deh kaki Abah, sudah muat lagi…. “, Ucap Abah membangunkan emak yang terlelap. Abah menunjukkan kondisi kakinya yang mengempes setelah mobil bis tersebut melewati kota Bekasi dan masuk ke wilayah Indramayu. Hal ini menandakan bahwa sihir yang dikirimkan orang jahat tersebut sudah tidak bisa bereaksi jika kami keluar dari lingkaran daerah yang kami tempati, dan itu pun terjadi pada Abah.

Sepanjang perjalanan, aku seperti mendengar suara-suara aneh yang bersumber dari luar kendaraan bis yang aku tumpangi. Kata emak, biasanya suara itu berasal dari makhluk halus penghuni jalanan seperti tuyul. Mendengar itu aku pun amat merasa tegang dan tidak mau bertanya lagi.

Sungguh perjalanan malam ini sangat menegangkan menurutku. Bagaimana tidak, emak yang dengan modal nekad mencari lokasi penyembuhan Abah tanpa tahu daerah pasti dan hanya bermodal bertanya kepada orang-orang di jalan. Menurutku itu sangat mustahil bisa menemukan alamat, ditambah lagi kami mencari alamat di malam hari dan aku tidak tahu berapa lamanya kami di jalan menuju ke lokasi karena aku merasa sangat lama sekali.

“Bang ini udah masuk ke wilayah Mah Tamba belum ?”, Tanya emak kepada kondektur.

“Sebentar lagi Bu, nanti kalo sudah dekat saya kabari bu”, jawabnya dan tak seberapa lama kami pun di turunkan dari bis. Katanya kami sudah sampai dan berpesan untuk bertanya lagi kepada penduduk.

Selepas turun dari bis. Kebetulan kami diturunkan di depan warung kopi. Emak memesan teh dan roti untuk kami makan. Lumayan perjalan panjang tadi membuat perut keroncongan.

“Jadi, tujuan ibu mau ke Mah Tamba ?, Wah jam segini mah bahaya Bu, sudah gak ada kendaraan. Kalo mau bermalam saja di sini”, mendengar penjelasan pedagang warung kopi tersebut sepertinya emak tidak menyetujui tawarannya.

“Oh, kalo begitu tunggu ya bu. Saya panggilkan keponakan saya saja Anto. Insya Allah dia amanah. Bahaya Bu, banyak begal di sini”, ucapnya menegaskan penuh kekhawatiran. Rupanya pemilik warung ini berhati mulia. Aku sebagai anak kecil saja paham bahwa ia benar-benar baik.

“Benarkan Bu, dia bisa bawa saya ke lokasi ?”, Tanya emak dengan raut wajah harap-harap cemas.

“Iya Bu, tenang saja. Hati-hati ya ! Mudah-mudahan jodoh ya bu, si bapak bisa sembuh”, ucap pemilik warung kopi yang ramah itu berharap Abah benar-benar berjodoh dengan pengobatan di Mah Tamba.

“Anto sing akeh lo, itu ibu sama bapak bawa anak kecil juga ya !”, Pesannya kepada keponakannya, dan ia pun langsung mengayunkan pedal becaknya.

Entah ketika itu jam berapa, sepertinya sangat malam sekali dan tiba-tiba…

“Lanang apa wadon…. ???”….

Bersambung….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here