Kaidah dan Prinsip Bertransaksi dalam Islam
Oleh: Siti Ropiah

Fiqh secara garis besar terbagi dua, yaitu ibadah dan muamalah. Pembagian ini didasarkan pada pemahaman tentang hablum minallah dan hablum minannas (hubungan vertikal dan hubungan horizontal). Fiqih ibadah berkaitan dengan hubungan dengan Allah. Sedangkan fiqh muamalah berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia (sebenarnya tidak hanya manusia tapi makhluk secara umum).

Terkait fiqh tersebut terdapat kaidahnya yang disebut kaidah fiqhiyah. Kaidah dasar fiqh muamalah itu
الأصل في المعاملة اللاباحة حتى يدل الدليل على تحريمها
Hukum asal muamalah adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Berdasarkan kaidah tersebut, bahwa dalam bermuamalah pada dasarnya dibolehkan, kecuali jelas ada larangan. Maksudnya sepanjang tidak ada larangan dalam Alquran dan hadis, maka hal itu dibolehkan. Dalam hal ini yang dicari dalam Alquran atau hadis adalah kalimat larangan. Ketika tidak ditemukan, maka hal itu boleh hukumnya.

Namun kaidah ini harus memperhatikan prinsip dasar dalam bermuamalah. Prinsip dasar muamalah di antaranya tidak ada Bharat (penipuan), tidak ada riba, tidak ada maisir (unsur judi), tidak merugikan dan tidak menyakiti.

Prinsip tersebut sejalan dengan tujuan dilakukannya muamalah yaitu untuk kemaslahatan atau kebaikan manusia. Karenanya prinsip dasar tersebut merupakan keniscayaan yang mendasari seluruh kegiatan muamalah.

Sejatinya Memahami Kaidah dan Prinsip Fiqh Muamalah Merupakan Keniscayaan

Salam Perindu Literasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here