TETAP SAJA PENDATANG
Neng Ceha

“Mak, kapan ke rumah nenek ?”, tanyaku untuk kesekian kalinya. Namun, emak selalu saja berkata nanti, nanti dan nanti. Meski kami asli Bekasi, namun tempat tinggal kami jauh dari sanak famili dan tak jarang kami selalu di sebut pendatang di kampungku.

Emak dan Abah adalah sosok orang tua pekerja keras, dengan jerih payahnya mereka mampu membangun sebuah toko di pinggir jalan dan banyak sekali pengunjungnya. Tak banyak waktu yang mereka punya untukku karena mereka sibuk melayani para pelanggan yang berkunjung ke toko, dan bahkan tak pernah bisa hadiri rapat wali murid bersama wali kelas di tiap-tiap pembagian raport, padahal aku termasuk siswa yang
selalu berprestasi di kelas. Beruntunglah wali kelasku sangat pengertian kepadaku, sehingga aku diperbolehkannya mengambil raport tanpa wali meski dalam hati berkecamuk dan terasa pedih.

Aku tak begitu banyak memiliki kawan bermain karena lokasi tempat tinggalku masih jarang penduduk dan sangat berjauhan, sehingga aku lebih memilih diam di rumah dan membantu emak dan Abah berjualan di toko. Maklumlah aku kan keluarga pendatang. Pernah suatu hari, ketika aku bermain di daerah pesawahan bersama kawan-kawanku ke rumah salah satu teman sekelas bernama Rita dan ibunya bertanya kepadaku, “kamu anak siapa neng ?”, tanyanya ketika aku hendak bersalaman dan mencium tangannya. “Emak Rohayati Bu”, jawabku spontan. “Oooh, pedagang kelontong di pinggir jalan samping sekolah dasar itu ya, yang pendatang itu”, tanyanya lagi. “Iya Bu”, jawabku sambil membatin. Secara aku yang jelas-jelas lahir di kampung ini tetap saja dianggap pendatang. Aku juga kan ingin dianggap asli kampung ini. Cimuning.

Salam literasi !

Tantangan menulis KPPBR

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here