Oleh :Rumondang E Sitohang

Tahun 2014 ,tepatnya Mei 2014 pertama kali bagi keluarga kecilku berwisata ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Niat awal kami adalah Pulau Tidung ,apa daya kami masuk ke kapal yang salah. Jadilah kami masuk ke kapal yang menuju Pulau Harapan.😁

Dalam setiap perjalanan wisata, aku dan suami sepakat untuk selalu pasrah dimanapun maut menjemput baik itu di darat ,laut dan udara. Dan kami juga sepakat untuk mengutamakan safety, jadi begitu masuk ke dalam kapal ,hal pertama yang aku tanya ke awak kapal adalah pelampung. Ya, dalam pikiranku jika laut Jawa mengamuk, paling tidak aku dan keluarga kecilku bisa menggunakan pelampung untuk menyelamatkan diri.

Kapalpun berlayar menuju Pulau Harapan, setelah lebih dulu mampir di pulau Pari. Ombak saat itu cukup besar tapi untuk ukuran kami, yang lahir di daerah sekitar Danau Toba, itu masih hal biasa. Cuma semalam kami betah menginap di Pulau Harapan karena fasilitas wisatanya biasa-biasa saja. Secara iseng, saat menemani anak -anak berenang ,aku bertanya kepada bapak -bapak yang sedang minum kopi di warung dekat pantai , kapan ada kapal yang menuju Pulau Tidung.Tiba-tiba ada seorang ibu yang mendengar pertanyaanku dan menjawab bahwa kapal ke Tidung 2 hari lagi.”Tapi kalau Neng mau, kapal suami Ibu akan berangkat menjemput wisatawan ke Tidung menuju Jakarta dan Neng boleh numpang dan bayar berapa aja”kata si Ibu. Bagai anak kecil yang diberi permen, aku kegirangan dan langsung bilang mau. Dengan menjerit aku berkata kepada anak-anak dan suami agar bergegas ke penginapan untuk mengambil barang. “Kita harus check out Pa, ada kapal ke pulau Tidung,”kataku penuh semangat.

Sesungguhnya perjalanan seru itu dimulai sejak kami masuk ke kapal yang berukuran sedang tersebut.Di dalam kapal ada 5 orang rombongan anak muda, dan aku beserta keluarga kecilku. Total cuma 10 penumpang. Dalam perjalanan ke Pulau Tidung, ombak, angin dan hujan sepertinya sedang murka. Ombak tertinggi yang aku rasakan selama hidupku adalah ombak pada saat itu .Awan hitam menyelimuti langit , hujan deras ,angin yang sangat kencang serta ombak tinggi menghantarkan air laut masuk ke kapal, sungguh merupakan pemandangan mengerikan. Kapal kayu yang berukuran sedang tersebut terombang ambing tak tentu arah, suara anak muda yang menjerit dan menangis membuat perjalanan ini serasa film horor yang menakutkan.Tapi heran dengan ketiga anakku ,dengan badan memakai baju pelampung ,walau mereka muntah -muntah tapi tetap terlihat tenang padahal air sudah masuk ke lantai atas kapal. 40 menit terombang ambing di tengah laut tanpa kepastian, memberiku pemahaman bahwa jika yakin bahwa Tuhan itu ada, maka yakinlah. Tiba -tiba langit cerah, hujan reda dan ombakpun mulai tenang. Tanpa terasa sampailah kami di pulau Tidung.Aku memberikan sejumlah uang kepada pemilik kapal, namun entah apa yang terjadi, si Bapak tidak mau menerima. Saya tanya kenapa, si Bapak menjawab bahwa dalam perjalanan menuju pulau Tidung, dia merenung tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk pada keluargaku (si bontot baru berusia 2 tahun waktu itu ). Begitulah walau kupaksa, si bapak tetap tidak mau menerima. Setelah mengucapkan terima kasih, lalu kami mencari penginapan untuk 2 hari.

Melihat pemandangan di pulau Tidung ,perjalanan horor langsung terlupakan. Bahkan aku bertanya ke anak -anak apakah mereka masih mau ke Pulau Tidung walau cuaca serasa horor? Mereka jawab mau. Pulau Tidung kecil dan Tidung Besar memang indah. Jangan lupa mampir di Jembatan Cinta dan rasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Oh ya ,ujilah cinta pasanganmu dengan cara menyuruhnya melompat ke laut dari Jembatan Cinta. Kalau nggak bisa berenang, ya jangan 😁.Perjalanan perdana ke pulau Tidung sungguh seru. Perjalanan ke 2 dan 3 menjadi biasa saja .

memori 2014

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here